Selasa, 06 Agustus 2013

ALBERT EINSTEIN BERAGAMA APA ?



Yang Belum Tau Agama Albert Einstein Masuk !!!! (No SARA) - Apa Agama Albert Einstein ? - Dalam sebuah dokumen yang dirahasiakan, terungkap sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut Islam Syiah Imamiyah.

Hal ini berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah.

Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malaikat yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.

Ketika media-media zionis berusaha mencegah peningkatan jumlah pemeluk baru Islam di kalangan masyarakat Barat dan berusaha mencoreng citra agama cinta damai dan keadilan ini, terungkap sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut Islam Syiah Imamiyah.

Salah satu hadis yang menjadi sandarannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syiah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”.

E = M.C² >> M = E : C²

Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah al-Uzma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Senin, 05 Agustus 2013

Thermo Sensor

Thermokopel

Berfungsi sebagai sensor suhu rendah dan tinggi, yaitu suhu serendah 3000F sampai dengan suhu tinggi yang digunakan pada proses industri baja, gelas dan keramik yang lebih dari 30000F. Thermokopel dibentuk dari dua buah penghantar yang berbeda jenisnya (besi dan konstantan) dan dililit bersama.
    Prinsip Kerja :
      Jika salah satu bagian pangkal lilitan dipanasi, maka pada kedua ujung penghantar yang lain akan muncul beda potensial (emf). Thermokopel ditemukan oleh Thomas Johan Seebeck tahun 1820 dan dikenal dengan Efek Seebeck.

      Efek Seebeck:
      Sebuah rangkaian termokopel sederhana dibentuk oleh 2 buah penghantar yang berbeda jenis (besi dan konstantan), dililit bersama-sama. Salah satu ujung T merupakan measuring junction dan ujung yang lain sebagai reference junction. Reference junction dijaga pada suhu konstan 320F (00C atau 680F (200C). Bila ujung T dipanasi hingga terjadi perbedaan suhu terhadap ujung Tr, maka pada kedua ujung penghantar besi dan konstantan pada pangkal Tr terbangkit beda potensial (electro motive force/emf) sehingga mengalir arus listrik pada rangkaian tersebut.
      Kombinasi jenis logam penghantar yang digunakan menentukan karakteristik linier suhu terhadap tegangan.

      Tipe-tipe kombinasi logam penghantar thermokopel:
      1. Tipe E (kromel-konstantan)
      2. Tipe J (besi-konstantan)
      3. Tipe K (kromel-alumel)
      4. Tipe R-S (platinum-platinum rhodium)
      5. Tipe T (tembaga-konstantan)

      Tegangan keluaran emf (elektro motive force) thermokopel masih sangat rendah, hanya beberapa milivolt. Thermokopel bekerja berdasarkan perbedaan pengukuran. Oleh karena itu jika ukntuk mengukur suhu yang tidak diketahui, terlebih dulu harus diketahui tegangan Vc pada suhu referensi (reference temperature). Bila thermokopel digunakan untuk mengukur suhu yang tinggi makaa akan muncul tegangan sebesar Vh. Tegangan sesungguhnya adalah selisih antara Vc dan Vh yang disebut net voltage (Vnet).

      Besarnya Vnet ditentukan dengan rumus:
      Vnet = Vh – Vc

      Keterangan :
      Vnet = tegangan keluaran thermokopel
      Vh = tegangan yang diukur pada suhu tinggi
      Vc = tegangan referensi
      Gambar grafik tegangan terhadap suhu pada thermokopel tipe E, J, K dan R :




    Thermistor (Thermal Resistor/Thermal Sensitive Resistor)

      Berfungsi untuk mengubah suhu menjadi resistansi/hambatan listrik yang berbanding terbalik dengan perubahan suhu. Semakin tinggi suhu, semakin kecil resistansi.
      Simbol Thermistor :



    Thermistor dibentuk dari bahan oksida logam campuran, kromium, kobalt, tembaga, besi atau nikel.
      Bentuk Thermistor :
      1. Butiran
        Digunakan pada suhu > 7000C dan memiliki nilai resistansi 100 Ω hingga 1 MΩ.
      1. Keping
        Digunakan dengan cara direkatkan langsung pada benda yang diukur panasnya.
      2. Batang
        Digunakan untuk memantau perubahan panas pada peralatan elektronik, mempunyai resistansi tinggi dan disipasi dayanya sedang. Thermistor dibuat sekecil-kecilnya agar mencapai kecepatan tanggapan (respon time) yang baik.
        Pemakaian thermistor didasarkan pada tiga karakteristik dasar, yaitu:
        1. Karakteristik R (resistansi) terhadap T (suhu)
        2. Karakteristik R (resistansi) terhadap t (waktu)
        3. Karakteristik V (tegangan) terhadap I (arus)
        Grafik hubungan antara resistansi terhadap suhu thermistor : 




    RTD (Resistance Temperature Detectors)

      Berfungsi untuk mengubah suhu menjadi resistansi/hambatan listrik yang sebanding dengan perubahan suhu. Semakin tinggi suhu, resistansinya semakin besar. RTD terbuat dari sebuah kumparan kawat platinum pada papan pembentuk dari bahan isolator. RTD dapat digunakan sebagai sensor suhu yang mempunyai ketelitian 0,03 0C dibawah 5000C dan 0,1 0C diatas 10000C.
      Konstruksi RTD bahan platinum:






      Hubungan antara resistansi dan suhu penghantar logam merupakan perbandingan linear. Resistansi bertambah sebanding dengan perubahan suhu padanya. Besar resistansinya dapat ditentukan berdasarkan rumus :

      Besar resistansi pada suhu tertentu dapat diketahui dengan rumus :


      Keterangan :
        R1 = resistansi pada suhu awal
        R2 = resistansi pada suhu tertentu
        Untuk menghasilkan tegangan keluaran dapat diperoleh dengan mengalirkan arus konstan melalui RTD atau dengan memasangnya pada salah satu lengan jembatan wheatstone.

            Gambar rangkaian jembatan wheatstone dengan RTD:





        Prinsip kerja rangkaian:

        Bila RTD berada pada suhu kamar maka beda potensial jembatan adalah 0 Volt. Keadaan ini disebut keadaan setimbang. Bila suhu RTD berubah maka resistansinya juga berubah sehingga jembatan tidak dalam kondisi setimbang. Hal ini menyebabkan adanya beda potensial antara titik A dan B. Begitu juga yang berlaku pada keluaran penguat diferensial.Amplifier diferensial (penguat diferensial) menggunakan IC op-amp yang berfungsi untuk menguatkan tegangan keluaran dari rangkaian jembatan menjadi tegangan yang lebih besar. Jika rangkaian jembatan pada posisi setimbang maka pada titik A dan B mempunyai tegangan dan arus yang sama.




        IC LM 35

          Berfungsi untuk mengubah suhu menjadi tegangan tertentu yang sesuai dengan perubahan suhu.
          Rangkaian dasar IC LM 35:




        Tegangan keluaran rangkaian bertambah 10 mV/0C. Dengan memberikan tegangan referensi negatif (-Vs) pada rangkaian, sesor ini mampu bekerja pada rentang suhu -550C – 1500C. Tegangan keluaran dapat diatur 0 V pada suhu 00C dan ketelitian sensor ini adalah ± 10C. Data yang lebih lengkap dapat diunduh (didownload) di www.national.com/catalog/sg2261.html


Minggu, 04 Agustus 2013

Pneumatic Valve Positioner

Pneumatic Valve Positioner


Positioner adalah semacam relay udara yang berfungsi untuk menghilangkan hysterisis, pengaruh friction serta pressure drop yang dapat mengganggu kerja control valvePositioner bekerja memastikan sinyal input dari controller akan linear dengan posisi bukaancontrol valve.
Positioner juga dapat berfungsi sebagai penguat sinyal atau volume booster. Sinyal low pressure dari controller akan dikuatkan (multiply) menuju actuator agar posisi valve membuka/menutup dengan presisi.

Sebagian positioner dikombinasikan dengan I/P converter untuk mengakomodasi sinyal electronic. Dewasa ini semakin umum dipakaipositioner berbasiskan HART (Highway Addressable Remote Transducer). Keuntungan utama sistem HART ini adalah dari remote diagnostic dan troubleshooting. Pada modul ini hanya akan dibahas tentang pneumatic valve positioner dari jenis Fisher seri 3610 dan 3582.


Prinsip kerja
Pada posisi direct actinginput sinyal dari controller diarahkan ke cavity A pada modul input. Kenaikan sinyal menyebabkan gayadownforce pada summing beam, membuatnya bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Gerakan ini mendorong flapper maju mendekati nozzle dan membuat tekanan nozzle meningkat. Kenaikan tekanan nozzle akan membuat relay beam bergerak searah jarum jam, membuat relay B meningkatkan tekanan upper cylinder dan relay A membuang tekanan lower cylinder dari actuator.


Skematik positioner type 3610JP pada double acting actuator


Tekanan actuator akan membuat rotary shaft memutar searah jarum jam, menyebabkan feedback lever bergerak pivot searah jarum jam, dan gaya pada summing beam meningkat. Gaya yang melawan downward force dari summing beam ini akan terus meningkat hingga tercapai kesetimbangan. Pada titik inilah valve shaft berada pada posisi yang benar sesuai dengan sinyal input.


Jenis Valve

    Gate Valve
                Gate Valve adalah valve yang paling sering dipakai pada sistem perpipaan. Fungsinya untuk
    membuka dan menutup aliran (on-off), tetapi tidak untuk mengatur besar kecil aliran (throttling).
    Kelebihan Gate Valve, minimnya halangan/ resistan saat valve ini dibuka penuh, sehingga aliran bisa
    maksimal.
               



    Gate Valve mengontrol aliran melalui badan valve yang berbentuk pipa, dengan sebuah
    lempengan atau baji vertikal (lihat gambar dibawah ini) yang bisa bergeser naik turun saat handel valve diputar. Valve ini didesain untuk posisi terbuka penuh, atau tertutup penuh. Jika valve ini dalam keadaan setengah terbuka, maka akan menyebabkan pengikisan pada badan valve, dan turbulensi aliran zat bisa menyebabkan getaran pada baji valve sehingga menghasilkan suara gemeretak.


    Globe Valve
             
              Globe Valve biasanya digunakan pada situasi dimana pengaturan besar kecil aliran (throttling)
    diperlukan. Dengan mudah memutar handel valve, besarnya aliran zat yang melewati valve bisa diatur.
    Dudukan valve yang sejajar dengan aliran, membuat globe valve efisien ketika mengatur besar kecilnya aliran dengan minimum erosi piringan dan dudukan. Namun demikian tahanan didalam valve cukup besar.




             Desain Globe Valve yang sedemikian rupa, memaksa adanya perubahan arah aliran
    zat didalam valve, sehingga tekanan menurun drastis dan menyebabkan turbulensi di dalam valve itu
    sendiri. Dengan demikian, Globe Valve tidak disarankan diinstal pada sistem yang menghindari
    penurunan tekanan, dan sistem yang menghindari tahanan pada aliran.


    Angle Valve
         
         Sama seperti globe valve, angle valve juga digunakan pada situasi dimana pengaturan besar
    kecil aliran diperlukan (throttling). Namun angle valve di buat dengan sudut 90°, hal ini untuk
    mengurangi pemakaian elbow 90° dan fitting tambahan.








     Check Valve
            
            Check Valve memiliki perbedaan yang signifikan dari Gate Valve dan Globe Valve. Valve ini di
    disain untuk mencegah aliran balik. Ada beberapa jenis check valve, tapi ada 2 jenis yang paling umum yaitu Swing Check dan Lift Check. Swing Check Valve biasanya dipasangkan dengan Gate Valve, sedangkan Lift Check Valve oleh beberapa pabrikan digunakan untuk menggantikan fungsi Ball Valve sebagai Ball Check Valve. Check Valve tidak menggunakan handel untuk mengatur aliran, tapi
    menggunakan gravitasi dan tekanan dari aliran fluida itu sendiri.      
        





                                                                                     
          Karena fungsinya yang dapat  mencegah aliran balik (backflow) Check Valve sering digunakan sebagai pengaman dari sebuahequipment dalam sistem perpipaan. 


    Ball Valve

                 Ball Valve adalah alternatif murah dari jenis valve-valve yang lain. Ball valve menggunakan
    bola logam yang tengahnya ada lubang tembus, diapit oleh dudukan valve untuk mengontrol aliran.
    Sering dipakai pada proses hydrocarbon, ball valve mampu mengatur besar kecil aliran gas dan uap
    terutama untuk tekanan rendah. 


               Valve ini dapat dengan cepat ditutup dan cukup kedap untuk menahanfluida/ zat cair. Ball valve tidak menggunakan handwheel, tetapi menggunakan ankle untuk membuka atau menutup valve dengan sudut 90°. Disainnya yang simpel, meminimalkan turunnya tekanan pada saat valve dibuka penuh.



    Butterfly Valve
           
             Butterfly Valve memiliki bentuk yang unik jika dibandingkan dengan valve-valve yang lain.
    Butterfly menggunakan plat bundar atau wafer yang dioperasikan dengan ankel untuk posisi membuka
    penuh atau menutup penuh dengan sudut 90°. Wafer ini tetap berada ditengah aliran, dan
    dihubungkan ke ankel melalui shaft. Saat valve dalam keadaan tertutup, wafer tersebut tegak lurus
    dengan arah aliran, sehingga aliran terbendung, dan saat valve terbuka wafer sejajar/ segaris dengan
    aliran, sehingga zat dapat mengalir melalui valve.

            Batterfly valve memiliki turbulensi dan penurunan tekanan (pressure drop) yang minimal. Valve
    ini bagus untuk pengoperasian on-off ataupun throttling, dan bagus untuk mengontrol aliran zat cair
    atau gas dalam jumlah yang besar. Namun demikian valve ini biasanya tidak memiliki kekedapan yang
    bagus, dan harus digunakan pada situasi/ sistem yang memiliki tekanan rendah (low-pressure).


    Relief Valve
              
              Relief valve memiliki fungsi yang sangat berbeda dari valve-valve yang lain. Valve ini didisain
    khusus untuk melepas tekanan berlebih yang ada di equipment dan sistem perpipaan. Untuk mencegah
    kerusakan pada equipment, dan lebih penting lagi cedera pada pekerja, relief valve dapat melepas
    kenaikan tekanan sebelum menjadi lebih ekstrim.


           Relief valve menggunakan pegas baja (lihat gambar di bawah ini), yang secara otomatis akan terbuka jika     tekanan mencapai level yang tidak aman. Level tekanan pada valve ini bisa diatur, sehingga bisa ditentukan pada level tekanan berapa valve ini akan terbuka. Ketika tekanan kembali normal, relief valve secara otomatis akan tertutup kembali.




Jumat, 02 Agustus 2013

Operating I/P Converter/Transducer



Selama operasi normal output dari I / P terhubung ke elemen kontrol akhir (misalnya katup kontrol, auto choke valve). Masukan terminal terhubung ke DCS atau PLC tergantung pada sistem yang digunakan.
I / P converter dapat dipisahkan menjadi dua bagian, bagian elektronik (kartu elektronik) dan pneumatik bagian (pneumatik relay).
Kartu elektronik digunakan untuk memproses sinyal input mA dan dikonversi ke coresponse keluaran pneumatik.

Pneumatik relay digunakan untuk memperkuat sinyal output sehingga waktu tunda untuk tekanan udara dapat dihindari.


Atas aplikasi ilustrate gambar I / P transducer pada Control Valve. I / P transduser dapat dikatakan sebagai peralatan antarmuka antara sinyal analog 4-20mA ke pneumatik sinyal 3-15 psi. Control Valve adalah salah satu peralatan yang dapat ditemukan dalam minyak sangat mudah proses dan gas. Dalam gambar diagram lingkaran gambar ini dapat disederhanakan seperti ini:

Membuka
Command signal Analog
Signal Pneumatik
Aksi Valve
4 mA
3 psi
0 %
8 mA
6 psi
25 %
12 mA
9 psi
50 %
16 mA
12 psi
75 %
20 mA
15 psi
100 %
Menutup
16 mA
12 psi
75 %
12 mA
9 psi
50 %
8 mA
6 psi
25 %
4 mA
3 psi
0 %





Modul elektronik bagian menerima sinyal input DC standar saat ini (4-20 mA) dari DCS atau PLC. Saat ini akan beroperasi gulungan kemudian meningkatkan atau menurunkan kekuatan magnet menyusul sinyal input.


Kekuatan magnet akan mendorong hubungan untuk mengatur jarak antara flapper dan Nozzel atau dengan kata lain untuk mengontrol berdarah udara melalui pengaturan flapper Nozzel terpisahkan. Tekanan nozzle memberikan sinyal input untuk mengoperasikan relay. Kemudian tekanan relay output diterapkan langsung ke elemen kontrol akhir (control valve atau actuator auto choke valve).
Ketika flapper bergerak menjauh dari Nozzel, tekanan keluaran akan rendah / jatuh, dan terbalik ketika flapper mendekati nosel tekanan output akan meningkat / tinggi.